Saat awan hitam mengintai
aku berlari meninggalkanmu
Telah kukerek tubuhmu tinggi di dahan pohon
Dan telah datang burung-burung menyambutmu seperti karib lama
Membawamu terbang mengintip peri-peri
yang tak habisnya bercanda
yang berkumpul entah di atas mana
Tapi kini aku ragu:
adakah kau telah terbang bersama burung-burung
merdeka dari tubuhmu
atau sendiri sepi tererayun-ayun di atas pohon di taman itu?
Di keremangan malam
Sambil menurunkan jasadmu yang beku diguyur hujan
aku terkenang obrolan terakhir kita:
-Tahukah kau apa itu hujan?
-Kau sinting, semua orang tahu
-Semua orang sinting. Aku bertanya padamu
Aku diam
Katamu:
Di atas sana ada peri-peri merajut pelangi
Mereka ceroboh dan suka bercanda hingga jarum-jarum itu
berjatuhan ke bumi
ke atap-atap rumah kita
lalu kita sebut hujan
Kadang mereka selesai merajut pelangi, dan
anak-anak kita melonjak riang menyaksikannya
Lebih sering mereka gagal merajutnya
Kau sinting, kawan
Aku hanya melihat jasadmu yang tergantung
Dan kau sendiri di sana
Kompas – Oase – Puisiku – 080210





