Author Archive
Peluk – Anwar Idhisa
Kau lingkarkan peluk. Aku remuk Kau amuk. Dipinang kutuk! 2009 Kompas – Oase – Puisiku – 140710
In: Anwar Idhisa · Tagged with: Anwar Idhisa, Indonesia, P, Peluk
Kecup – Anwar Idhisa
Kecup menyentuh Bibirmu memesrai aku Mirip psikopat Dengan segudang muslihat Berpuas bernikmat Mencekik aku tamat. Cinta kiamat! 2009 Kompas – Oase – Puisiku – 140710
In: Anwar Idhisa · Tagged with: Anwar Idhisa, Indonesia, K, Kecup
Okie – Anwar Idhisa
Maaf, Aku tak bisa bertakjub hati Sudah terlalu kenyang aku Bertemu kamu Di kehidupan sehari-hari! 2009 Kompas – Oase – Puisiku – 140710
In: Anwar Idhisa · Tagged with: Anwar Idhisa, Indonesia, O, Okie
Bintang – Anwar Idhisa
Bintang terang yang berkilau Kerlingkan goda rayu memukau Tawarkan tempat penuh silau Mendidihkan arus darah Degup jantung terbakar bergairah Ramai dikejar, diraihnya Sambil menutup rapat-rapat mata Tak ingat siapa-siapa! 2009 Kompas – Oase – Puisiku – 140710
In: Anwar Idhisa · Tagged with: Anwar Idhisa, B, Bintang, Indonesia
Kamuflase – Anwar Idhisa
Kau tunjukkan tarian rumi Berputar ritmis bagaikan darwis. Tapi Wajah itu bukan menengadah lunak Melainkan sekam mendongak Dari sorot mata tertebak: Yang mendongak diam-diam kilatkan tamak Bukan sinaran tulus teduh yang enak, Adalah kamuflase Yang dibingkai kreasi eksotisme! 2009 Kompas – Oase – Puisiku – 140710
In: Anwar Idhisa · Tagged with: Anwar Idhisa, Indonesia, K, Kamuflase
Mantera Bir – Anwar Idhisa
bir tak tak takbir bir kubiru bir kumerah birku keruh. uh! bir kubarbar birmu apa birpanggul birkursi birmeja birbursa birsihir birkafir birngalir bir bir bir bir bir bir bir bircibir bir jubir bir mangkir bir mungkir kun biramir birselir bir tak akhir biranyir masuk bir larut bir bir kocok maka biramal birtuba birbayang birjalang birlayang [...]
In: Anwar Idhisa · Tagged with: Anwar Idhisa, Indonesia, M, Mantera Bir
Dalam Hujan – Anwar Idhisa
dalam hujan kau mengingatku. kau rasakan juga gigil dan kuyup di antara lebat yang menghebat sambil menahan miris menyimak deru angina yang garang mengguncang dalam hujan sama saja kemarau sebab bulir padi dan daun tembakau sama-sama merunduk, patah tanpa binar sebanding hari-hari yang menggelepar dalam hujan kau mengingatkan aku pada iklim yang sublim kita selalu [...]
In: Anwar Idhisa · Tagged with: Anwar Idhisa, D, Dalam Hujan, Indonesia
Cuplikan Sejarah – Anwar Idhisa
: majapahit hayam wuruk belum lahir. gajahmada masih bertapa entah di mana. hutan masih begitu rimbun, hamparkan siluet kelam pada tanah, dipadati kerapatan pohon-pohon besar, juga belukar yang merambat teramat liar menjalar, disarangi: ular, bunglon, anjing dan binatang-binatang lain yang hanya peka terhadap naluri memangsa, haus darah dan jiwa korban, adalah agenda utama pemuasan yang [...]
In: Anwar Idhisa · Tagged with: Anwar Idhisa, C, Cuplikan Sejarah, Indonesia
Cintamu yang Sederhana, Ania – Wong Agung Utomo
Yang menuntunku ke pelaminan Rupanya tak bisa kujadikan Alamat pulang Aku masih terlunta-lunta Dari kota ke kota Membaca tanda-tanda usia Dan namamu ania Adalah satu tanda Yang telah berhasil Kubaca Meski baru di halaman pertama Dari begitu berjubelnya tanda-tanda Yang belum berhasil Kueja Kompas – Oase – Puisiku – 210710
In: Wong Agung Utomo · Tagged with: C, Cintamu yang Sederhana Ania, Indonesia, Wong Agung Utomo
Ketika Pergi, – Wong Agung Utomo
Dibawanya cinta Ketika pergi pula Mungkin ditemukannya Cinta Pergi mungkin pula Lantaran bisikan cinta Kerena siapa kenal siapa Karena siapa cinta siapa Dalam perjalanan Akan banyak yang ditemukan Karena itu Dari waktu Ke waktu Terus ada yang baru Kompas – Oase – Puisiku – 210710
In: Wong Agung Utomo · Tagged with: Indonesia, K, Ketika Pergi, Wong Agung Utomo
Pengelana Udara – Wong Agung Utomo
Ada cinta Melesat di udara Berupa kata Ada rindu Melesat di udara Juga berupa kata Ada kematian Melesat di udara Masih berupa kata Ada tuhan Melesat di udara Masih saja berupa kata Hingga udara jadi begitu riuh Begitu gaduh Seolah tak mau kalah Dengan daratan dan lautan Hanya kata Yang bisa melintasi semesta Dan karena [...]
In: Wong Agung Utomo · Tagged with: Indonesia, P, Pengelana Udara, Wong Agung Utomo
Tak Jemu-Jemunya, – Wong Agung Utomo
Kutelaah senyum Dan ragamu …perempuan yang mengikat rambut Belah pinggirnya Urat lehermu yang kencang Mengencangkan kelelakianku Eva Wajahmu rembulan Langit malam seusai hujan Penyair yang diremas Dingin yang ganas Kompas – Oase – Puisiku – 210710
In: Wong Agung Utomo · Tagged with: Indonesia, T, Tak Jemu-Jemunya, Wong Agung Utomo
Ukiran dari Pahatan, – Wong Agung Utomo
Sisa kelahiran pada tubuhmu Adalah komposisi relief Di dinding candi waktu Yang megah Dan penuh kejutan Di setiap tonjolan dan guratannya Deretan keindahan yang meliuk Baik itu yang landai Di bawah ataupun ke atas pinggulmu Membuat pilu bagi lelaki Yang hanya mampu Memandangimu Eva.. Kehangatan matahari yang abadi Yang jauh, terjatuh Bersemayam di setiap lorong [...]
In: Wong Agung Utomo · Tagged with: Indonesia, U, Ukiran dari Pahatan, Wong Agung Utomo
Senyum Itu, – Wong Agung Utomo
Masih saja terus mengusikku Bahkan menyeretku ke keluasan lapangan Malam Di kelilingi kerumunan dingin Sebidang kamar Kota pegunungan …h senyum sepasang bibir Yang merah jambu Tebal dan lebar Senyum dari wajah Yang putih bundar Dengan sepasang kornea kecoklatan Di cungkupi dua guratan alis kehitaman Eva…eva..eva Tlah kamu usik adam Di dalam tidur kelelakiannya Dengan senyum [...]
In: Wong Agung Utomo · Tagged with: Indonesia, S, Senyum Itu, Wong Agung Utomo
Perempuan, Kelapa, dan Kenyang – Syam Sdp Terrajana
usai berladang laki laki menengak air kelapa muda sebelum waktu mengutuk perempuan jadi santan kelapa yang disumbi liang sabutnya hingga sirna pada parutan terakhir setiap rumah layaklah berdapur berbumbu selera berbeda tapi laki laki lapar alangkah nyaris sama berulah setelah perempuan disantap dengan seribu selera dicungkilnya pula daging asing yang haram dijamah Kompas – Oase [...]
In: Syam Sdp Terrajana · Tagged with: Indonesia, P, Perempuan Kelapa dan Kenyang, Syam Sdp Terrajana
Perempuan, Nangka, dan Lupa – Syam Sdp Terrajana
laki laki membelah perempuan, sejak ikhwal birahi yang dikira sama kepayan dengan buah nangka padahal ia hapal betul aroma dan setiap jengkal uratnya tapi minyak lupa dibalur di tangan pun belatinya hingga getah yang ditemui sebelum buah, nyaris abadi ia sesali bahkan, setelah kembung melumat cinta yang tinggal bijiNya itu tak jarang ia lupa bertobat [...]
In: Syam Sdp Terrajana · Tagged with: Indonesia, P, Perempuan Nangka dan Lupa, Syam Sdp Terrajana
Perempuan, Apel, dan Gigi – Syam Sdp Terrajana
bukan takdir perempuan jadi sebiji apel, digigi laki laki yang mengoyak, tak tersisa luka menganga sekalipun namun jika hendak sedap dipandang mata patutlah ia dinikmati pada setiap kunyah digigi laki-laki yang mengoyak, terbit muka si tikus rakus lancang menculik makanan sebelum doa lapar digelar jika perempuan terpukau tenung justru tergila gila ingin dilukai, tapi suatu [...]
In: Syam Sdp Terrajana · Tagged with: Indonesia, P, Perempuan Apel dan Gigi, Syam Sdp Terrajana
Pada – Syam Sdp Terrajana
sekecup bibirmu sebuah sunyi terabaikan mata yang terpejam Kompas – Oase – Puisiku – 190710
In: Syam Sdp Terrajana · Tagged with: Indonesia, P, Pada, Syam Sdp Terrajana
Puisi – Syam Sdp Terrajana
adalah kuburan basah setelah isak dan taburan bunga adalah surau dan adzan parau adalah gerimis titis dipelupuk mata Kompas – Oase – Puisiku – 190710
In: Syam Sdp Terrajana · Tagged with: Indonesia, P, Puisi, Syam Sdp Terrajana
Mengubur Hujan – Syam Sdp Terrajana
pada langit ia mengadu sekian lama kehilangan hujan yang jatuh dilubuk usianya ketika lubuk itu berlubang dia saksikan pusar air yang muntah dari lambung sungai yang perih dan ribuan burung pengembara membawa getah luka pepohonan entah kemana kini dibawah langit ia berharap sesuatu turun membawa hujan itu padanya “akan kukubur sesapkan dibumi, agar selanjutnya terbang [...]
In: Syam Sdp Terrajana · Tagged with: Indonesia, M, Mengubur Hujan, Syam Sdp Terrajana
Cuplikan Biografi Istriku – Syam Sdp Terrajana
istriku adalah tirai jendela yang disingkap pagi hari. bilahan sinar matahari berselonjor menyusup ventilasi jendela karena gigitan angin selimut itu kutarik kembali istriku adalah pisau dapur dengan irisan tomat, kompor yang kehabisan minyak tanah kicau burung selang seling dengan sejumlah berita pagi di radio tua istriku adalah segelas kopi panas yang kuseruput pelan-pelan, mata yang [...]
In: Syam Sdp Terrajana · Tagged with: C, Cuplikan Biografi Istriku, Indonesia, Syam Sdp Terrajana
Pertama – Syam Sdp Terrajana
pertama kali lahir, aku menangis sekeras-kerasnya karena kehilangan kesenyapan belum bisa kulihat senyum siapapun pertama kali melihat, aku menirukan senyum ibuku sebab aku belum paham pada apa yang terdengar pertama kali mendengar, ramai itu aneh bagiku kenapa dunia tidak berhenti saja bicara pertama kali bicara, aku segera tahu apa arti sunyi diam diam ia kunyanyikan [...]
In: Syam Sdp Terrajana · Tagged with: Indonesia, P, pertama, Syam Sdp Terrajana
Setiap – Syam Sdp Terrajana
setiap detik kuhirup udara dalam suka duka sementara matahari dan bulan terus menerus menyodorkan siang malam silih berganti setiap menit dunia merangkak pelan pelan lalu tanpa terasa ia menjelma bola yang menggelinding kencang ditendang kesana kemari setiap jam ribuan tangan mengapai gapai mencari tepi dalam arus waktu yang tanpa terasa akan tiba dimuara bernama kefanaan [...]
In: Syam Sdp Terrajana · Tagged with: Indonesia, S, Setiap, Syam Sdp Terrajana
Memang, Sungguh Tak Ada Waktu – Syam Sdp Terrajana
sungguh tak ada waktu pada jam jam begini sekedar menerobos masuk disenyummu atau iseng bermain main disekitar kebun hatimu. udara sedang gelap dan aku lebih memilih diam dikamar menyerahkan diri pada terang lampu neon dihisapnya cemas itu sesukanya biarkan cemas sering berwarna kelabu agak kehitam hitaman seperti daki yang melekat dalam sebuah pendakian yang tak [...]
In: Syam Sdp Terrajana · Tagged with: Indonesia, M, Memang Sungguh Tak Ada Waktu, Syam Sdp Terrajana
Painan 0 km – Yuka Fainka Putra
Titik tolak keberadaan. Mengapungkan seluruh kisah, menguap menemui senja. Garis batas sebuah pilihan, ada dan bagaimananya, mesti dilalui dengan apa adanya. Sesiapa setia:tentunya ia akan tetap dianggap ada. Painan, November 2009 Kompas – Oase – Puisiku – 150710
In: Yuka Fainka Putra · Tagged with: Indonesia, P, Painan 0 km, Yuka Fainka Putra










