Ya Huwa,
kau antara ada dan tiada;
dalam ruang tiada batas,
dalam masa tiada hingga,
dalam hati tiada tempat
Ya Awwal,
mencintaimu lebih baik;
daripada mencintai seribu rembulan
yang bersinar dengan purnama satu
dan memeluk matahari yang sinarnya
dapat membakar sekujur tubuhku
kau bikin aku dari tanah suci
dengan tangan halusmu
sehingga aku jadi; sejadi jadinya,
manusia yang berhati
Ya Akhir,
dalam peradilanmu;
ada wajah-wajah berseri
masuk dalam pelukanmu
dan hilang dalam cinta kasihmu
dalam peradilanmu;
ada wajah-wajah menangis
tiada rindu, cinta, kasih,
tapi sebuah penyesalan berkekalan
Ya Dhohir,
dalam dadaku;
tergambar arti sebuah dunia
beserta isinya;
hilir mudik tak tentu arah
mengikuti sakwa sangka,
membebani jiwa,
mengukir dendam,
ragu dan tawa murka.
Ya Bathin,
peraduan yang kau berikan
sungguh tiada terkira indahnya,
tertata rapi berlapis emas permata
bagi seorang faqir yang hina dina
dalam ada dan tiada
Ya huwa al-awwal wal-akhir wadh-dhohir wal-bathin.
Lailaha illa anta subhanaka inni kuntu minadholimien.
Tanjung Santan, Juni 1999










