tiap detik kubangun kota-kota dalam diri
kurajah jarak pada gapura dan prasasti
tanpa tapal kutanam batas
kepak burung pun menebas waktu
wahai daku penghuni kota diri
kutanam rumah kaca di ulu hati
kepak ozon melambai-lambai
gelombang darah tenggelamkan kota-kota
kucari menara tak jumpa
tiap detik kubangun kota-kota dalam diri
jejalanan buntu tanpa pejalan kaki
kereta melaju dari nadi
kecepatannya mendekati tekanan darah tinggi
lampu-lampu suar memancar dari laut jiwa
tak ada camar memburu paru
tak ada lancang berlabuh
tak ada cewang membalut hati
Pekanbaru, 1997
Republika, 21 Maret 1999










