Pay Per Click (PPC) Lokal yang Direkomendasikan : AdsenseCamp | Kumpulblogger | Next Tip »

Tag-Archive for » E «

Udara terasa pengap disekeliling kita saat itu. Diantara bus antar kota dua provinsi. Tak banyak bicara.
Namun bulir-bulir air hampir pecah dari mataku.
“baik-baik disana?”, begitu pesanmu. Kali ini hutan jati aku lewati seorang diri..

Kompas – Oase – Puisiku – 010310

Kupeluk kesendirian
angin yang mendesis membawa celoteh malam
jarum jam seperti ritme dengan nada yang tak indah
dinding-dinding kamar membias cahaya yang temaram

Kurayu sepi
dengan tumpukan-tumpukan rindu yang menggumpal
wajah-Mu timbul tenggelam tersamar dalam balutan gelisah
antara ya dan tidak kuberanikan diri untuk mengecup-Mu

Kubuka jendela
pada langit yang cerah kulihat bintang-bintang menari
sedangkan rembulan meski tak benderang tetap terlihat indah
aku merasa bahwa malam ini Kau akan menjadi miliku

Kutelanjangi diriku
agar lebih nikmat kala mencumbu rayu diri-Mu
malam kian membisu membungkusku dalam hasrat yang membuncah
tiada lagi suara, semuanya hening, hanya desah nafasku dalam peluk-Mu

Doha, 12 January 2010

Kompas – Oase – Puisiku – 160210

engkaulah orang-orang yang acap kali mencium
mengintai amis cangkul kami atau ani-ani yang
bercinta dengan dewi sri di bawah kasmaran dewa
api dan rayuan waktu penuh janji tanah air sawah
dan anjir adalah gaya dzat dan energi kami
menggerakanya sebagai percintaan paling berarti dengan
mengenang wordt worth phytagora dan shakespeare
antara dangau burung-burung dan tali temali

pupuk hama benih dan musim adalah biji dadu
seperti kisah cinta memabukkan karl moor* mimpi
dicium kekasihnya tapi kami ditimbun harapan-harapan
amelia* sesekali kami terkenang pada kalian yang
berlompatan keluar garis bilangan sebagai
tikus-tikus yang bekejaran dilumbung padi kalian
pengerat pencuri lucu dan menjijikan seolah
mengingatkan kembali pada berbagai peristwa bernyawa
dan penyakit korupsi yang menjelma dimana-mana
tapi itu bukan gejala sampar kata kalian bersahaja
sekarang jalan dan gang buntu menuju rumah kami
kian sulit dibedakan antara pematang basah dan
kubangan kerbau lalu diam-diam kalian hapus air mata
kami caping arit dan seperangkat alat kerjanya
kalian poles dengan minyak teknologi tapi kami
takkan hanyut oleh kabar gembira ini selagi kalian
terus menerus membajak petak-petak akal petani dan
dengarlah suatu kali kami akan datang dengan masa
perlawanan seluruh potensi energi dan akal kami akan
kembali membajak tanah-tanah di otak kalian dengan
membalik hara tanahnya menjadi ladang syaraf yang
subur dan berhati nurani

sudikampiran, indramayu

*tokoh dalam drama die rauber karya ferdinand dee schiller

Kompas – Oase – Puisiku – 010909