di seberang sana
kotamu di ujung mataku
Indonesiamu kau kubur,
menjadikan tak bernyawa
tak lagi memahat cinta
dan mengukir rindu
tikam menikam dan pisau,
tak lagi untuk potong roti
malah ditebar api,
dan suara bom dimanamana
tengoklah saudaraku,
cerita yang pernah kita dendangkan
pada bayibayi kita,
pada prahara yang telah,
aku catat di batu purba
dan jangan lupa,
cerita Gajah Mada di malam itu
menulis palapa di negerimu, juga aku
agar negeri ini menajdi kristal
bukan pecahan kacakaca
menorehkan luka
Setu, Juli 2006
ketika nyanyian pedih itu henti di kamarku,
tak pernah kutemui lagi tangisan pilu
kini, temali kuat telah Kau ikatkan kembali
melewati jembatan,menyebarangi dunia
pada puasa yang jadi perisai
pada bersihku mendekap Tuhan
lalu, membuat diorama doa
mabuk sembayang malam berlamalama
ketika nyanyian henti Kau membidikku
Setu, Oktober 2006
di istana kretek
ribuan rokok dan perempuan
menusuk bau
membagi senyum lungit dari bibirmu
kaulah pahlawan rumah
kini, janganlah ada lagi kecewa
manismu akan kubawa mengembara
nikmat sekali Tuhan
kuharu pada remang matamu
hari ini jarijari perempuan
pembuat rokok menari
menguburku dalam,
kebersamaan tak bertepi
lalu siang itu aku diajaknya,
aku bersapa ke menara kudus
di masjid kudus,kudapati pesonaMu
engkau menorehkan ketajaman hati
dan membuatku mabuk zikir
di antara tiangtiang penyangga nurani
sampai di musium kretek
aku terpaku pada diorama
tangan perempuanperempuan
lincah memotong cerutu
dalam kebaya jawa
penggilingan tembakau pun menari
mengulang kisah purba
hari yang sumringah
kota wali menancapkan imanku
menusuk jiwa
Jakarta, Januari 2008