Jika nanti dia telah pergi
Membaur lagi dengan
mentari pagi
Menuai fatamorgana kehidupan
Di atas rezim-rezim kemunafikan
Dan jika nanti batang rusukku
telah sunyi
Melampaui batas hari-hari sepi
tanpa lagi rasa ngeri
Aku hanyalah buih di lautan
terombang-ambing tak bernyawa
yang hancurnya sampai karatan
Aku tak kan lari
juga tak mampu tuk sembunyi
atau sekedar hanya menanti
dirimu kini …
Mentari pagi …
yang menjauh pergi …
25 februari 2009
Kompas – Oase – Puisiku – 050909
Entah apa yang akan terjadi di depan mataku ?
Apakah kebahagiaan
Ataukah penderitaan
Entah apa yang akan dipelototi mata lirihku ?
Apakah kejayaan
Ataukah keterpurukan
Kesal aku, sekesalnya
Diam, bingung…
Entah apa yang harus kulakukan
Tak seberkas-pun cahaya yang ada di benak
Yang ada hanyalah beribu – ribu kata…
ENTAH…
Kompas – Oase – Puisiku – 050909
Sunyi senyap kerdip lilin
Melambai-lambai bak perawan mungil
Kutemani di depan rumah keduaku
Rumah kedua tercinta ( dewan kesenian kampus )
Terukir sihuette kecil tak terurai
Membatasi ruang sunyiku
Siapa aku …?!
Kemana prasastiku …?!
Lama sudah kuukir
Tak hirau segala apa
Woi …!!!
Butuh aku diriku dulu
Tersesat alur remajaku
Terbuang …
Terasingkan …
Siapa aku …?!
Dimana prasastiku …?!
Aku bukan apa-apa
Juga tidak punya apa-apa
29 april 2009
Kompas – Oase – Puisiku – 050909