Lelaki itu hanya menunduk
berlalu meninggalkan tapak luka
gundah menyelimuti perjalanan
tanpa batas tanpa kata akhir
Sang lelaki hanya diam
bak syair menunggu diungkap
bagai gending menunggu disimak
tanpa arah menepi belantara khidmat
Apa yang kau buntal dalam teduhmu
kenapa pula kau senyapkan bisu yang membiru
bukankah temaran telah tersenyum
kenapa kau campakan seyuman
Lihatlah betapa indah bibir itu
betapa lembut rambut itu menari dielus angin
lihat pula bening matanya
bukankah itu surgawi yang dijanjikan alam
Wahai lelaki malang
kenapa kau tinggalkan rasa sebelum bermakna
mengapa kau wedar sastra jendra
ketika kau tak sanggup merapalnya
Senja tak menuntut bela
tak menghiba kata mesra
dan senja menjadi bermakna
ketika dicumbu mesra sang sukma
Kau telah melaras tembang kemesraan
menerjang sekat penuh luka
menikam duka tanpa berkata-kata
datang lalu berlalu tanpa jejak
Sang lelaki sesaat menoleh
ragu membumi di batinnya
langkah kakinya tenang
menemui rasa yang hendak dicampakan
Sastra jendra kembali dia buka
dia simak dengan penuh keraguan
perjalanan pun menyisakan cemas
tanpa rundung luka dan merana.
*)Batavia – 10 Maret 2010.
Kompas – Oase – Puisiku – 130310
Kutiup bibit cinta dalam sapuan anginku
Sekelebat kilat tumbuh pohon cinta di lubuk kalbumu
Kepingan daun daun riang berdentingan terombak angin
Serpihan daun daun bermorfo lambang cinta
Setiap daun terukir kisah cinta manisku
Semilir angin setia mengayunkan tangkai demi tangkai
Dalam kesucian hari bercinta,bermekar dalam laksmi warna
Bernuansa bianglala,gilang gemilang sinarnya elok tersedap mata
Namun,pohon cinta seketika tergores hama dalam kalbu
Perih rasanya,bagai terhunus,tertikam samurai sakti membara
Disuatu senja hari fenomena itulah pedihnya cinta
Hingga,melelehkan jutaan cairan merah dari hati lubuk sari
Merah merekah berlinang membanjiri tubuh yang gesang
Waktu silih berganti dalam kesenyapan nafas yang ditarik
Hari demi hari,bulan demi bulan,tahun demi tahun,
Hingga berlalu dalam kepedihan yang tertahan
Dalam kalbunya tertanam derita cinta yang setia menusuk
Hingga berbuntut gesang menghampar bagai lautan api
Oh, pohon cinta
Sebutir pupuk pun tak minat menghampirimu
Sesiwur air pun tak jatuh mengguyur tubuhmu
Hingga pohon cinta pun hampir punah mengenaskan
Cinta yang sirna,cinta yang melayang tersangkut angin
Oh,pohon cinta
Bianglala terbubuhi diatas hamparan langit biru
Senyum mengembang cinta terpupuk kembali
Bunga kini menggunung dengan kasih sayang cinta melebih
Dunia nyata,cinta permai permai nampak dikelopak mata
Seri cinta mengembang bersemi dalam pelukanmu kasih
desau dingin yang dihasilkan tiupan angin dari daun-daun mahoni menggumpal terus bersarang di batinku yang teramat mengekalkan sepi membentuk kecupan nostalgia di dalam kepala ketika aku belum mengenal seluruhnya kepergian belalang dan jangkrik dari kebun pisang aku sering memainkan rasa cinta pada tanah basah dan mengcupnya sampai tubuh larut di dalamnya
desau dingin yang dihasilkan tiupan angin dari daun-daun mahoni menggiring ingatanku pada lekuk kampung halaman yang berserakkan seperti serpihan airmata di koridor batinku selekas dipecah kelabu waktu
jejak anak manusia, 2010
Kompas – Oase – Puisiku – 090310