Shobir Poer buat Rara G.
hampir saja cermin itu retak
terlempar dari detak jiwa
pada lara di penghujung bulan
semua – akhirnya-
bersorak ria, hari ini:
Tuhan telah membimbing
akan wajah kita
yang mati
: menghidupkan kembali pada dua jiwa
(selamat menempuh hidup baru Rara Gendis)
4 Peburari 2010
: Lisa Handayani
Seperti malam lain. Kau merangkulku dengan kabutmu. Kau sediakan senyum ranum saat aku sedang haus untuk dikulum.
Seperti subuh lalu. Saat kau terjaga dari lelap dan hangat pembaringan. Kau hubungi aku dengan kerjap kejora. Di sana, di cahayanya yang menguning pucat, bayang kau utuh sebagai gadis sederhana dengan rambut berkepang dua.
Seperti siang kemarin. Kau tengadahkan leherku pada sebentuk batas. Batas langit dengan laut yang membentuk ufuk dan kau tunjuki padaku bintang ufuk. Ia bersemburat cahaya jingga katamu. Kemudian kupahami bahwa bintang ufuk adalah wujud senja.
Seperti maghrib lewat. Kau bercerita kembali tentang semburat jingga. Dari laut jauh kau gubah pesan ombak menjadi syair-syair rindu. Rindu itu buatku seorang diri, katamu.
Aku puas, setelah rindu, kubuka kembali bentuk wajahmu dalam memori otakku. Merindumu, aku merasa sama sekali tidak rugi.
Banda Aceh, november penuh hujan – 2009
Kompas – Oase – Puisiku – 180210
Kawanku mengikut dari pagi seperti kesenyapan yang berputar-putar di rahim ibu ketika aku masih sebagai janin. Suara tangisnya di antara nafas dan darahku.
Kawanku lahir pertama.
Ia waktu.
Kompas – Oase – Puisiku – 080210